Oleh Yudhie Hatmadji Sudjarwo, 2008-08-01 11:16:57

Congklak

Ada yang tau PS3? Nintendo Wii? Xbox 360? Gw yakin banyak, tapi kalo ditanya tentang dhakonan, dentuman lamban, mokaotan, maggaleceng, aggalacang, atau nogarata, ada yang tau? Oke, pertanyaannya diganti, Ada yang tau Congklak? Kalo ada yang minimal masih tau atau pernah denger, bagus. Kalo ada yang masih ingat cara mainnya, lebih bagus. Kalo ada yang masih punya peralatan mainnya dan masih sering main, itu bagus banget.

Bukan apa-apa, di jaman dimana permainan semakin canggih, dan semakin bervariasi, dimana rental-rental PS3 bermunculan dimana-mana, gw ngerasa permainan tradisional seperti congklak ini udah semakin jarang keliatan aja, atau emang gw nya aja yang kurang beredar jadi gak tau kalo sebenarnya permainan ini masih suka ada yang main.

Buat yang belum tau, Congklak adalah sejenis permainan menggunakan papan (board game) dan sejumlah biji permainan yang umunya adalah kerang, atau plastik (yang tetap dibentuk seperti kerang, gak tau kenapa ya…). Di beberapa daerah kerang dapat diganti batu, atau biji-bijian tanaman. Congklak memiliki nama berbeda untuk tiap daerah, beberapa diantaranya seperti yang telah disebutkan di atas. Di Jawa disebut dakon, dhakon, atau dhakonan. Di Sumatra disebut congkak, di Lampung dentuman lamban, dan di Sulawesi disebut mokaotan, maggaleceng, aggalacang, atau nogarata. Buat yang mau tau, cara bermain disertakan.

Walaupun permainan Congklak sebenarnya bukan asli berasal dari Indonesia, melainkan dibawa oleh pelayar jaman dulu yang singgah ke Indonesia untuk berdagang rempah-rempah, tapi inilah indahnya letak geografis Indonesia yang berada antara jalur perdagangan strategis Asia-Eropa. Beberapa sumber mengatakan permainan ini berasal dari Afrika, sementara sumber lain mengatakan berasal dari Arab. Namun kini Congklak sudah menjadi bagian budaya dan permainan tradisional Indonesia.

Kembali ke masalah “Merdeka ataoe Beloem”, sebenarnya melihat kondisi sekarang dimana permainan tradisional semakin tersisihkan dengan permainan-permainan lain, muncul pertanyaan besar “Sudah merdekakah kita?”





<< Artikel Sebelumnya | Artikel Selanjutnya >>

ito menulis :
adik saya punya congklak.. saya sih tidak punya dan tidak bisa bermain, karena sepertinya itu permainan anak perempuan.. btw, security questionnya maksa bener.. (gw mau jawab tak peduli ga boleh..) hehe


m. zaini alif menulis :
congklak nama dunianya adalah macala permainan ini dari penelitian kami dari HONG (pusat kajian mainan dan permainan rakyat)adalah permainan yang melatih, kalau dari lahiriah adalah bagaimana dia berkreatvitas mengumpulkan dan berstrategi mengalahkan temannya. untuk melatih kemampuan berpikir tetapi dari sisi batiniah adalah bagaimana dia menyimpan satu biji hariperhari yang berjumlah tujuh cowakan kemudian dia tabung sisanya di lumbung atau gunung masih bersisa bagiakan rezekinya ke temennya hari per hari sehingga kepekaan rasa dalam bersosialisasi terlatih. begitulah kira2 hasil penelitiannya tetapi tenang di HONG telah mengumpulkan sktr 200 jenis mainan dan mulai bersyiar agar diangkat dan dimainkan kembali mohon dukungannya


Kriuk! menulis :
@ M. Zaini Alif : Wah terimakasih informasinya...
sangat sangat bermanfaat..
mari budayakan kembali permainan tradisional!!
:D btw, di link yah dari sini ke web kaulinan... link balik dong ;)


ikachant menulis :
Wow, saya salut banget sama mas Zaini.
Saya juga pernah denger kalo permainan congklak itu sudah mulai dilirik sama bule-bule belahan dunia lain sana. Ternyata filosofinya memang bagus ya! :)


Kirim Komentar :

Nama :
E-mail :
Website :
Komentar :

Pertanyaan Keamanan :

Balon warna apa yang meletus dalam lagu "Balonku Ada Lima"?

Jawaban :