Suatu hari yang tak jelas mau apa kemana, kami memutuskan untuk main ke Rumah Buku. Yepski, kami karena dua orang. Saya, Dilla, dan agen Kriuk! berikutnya, Budi. Kami duduk, memilih-milih buku, dan membaca ke sana kemari. Kemudian, mata kami tiba-tiba serempak tertuju pada satu tulisan di Majalah Fashion. Kami membaca, terhenyak, dan akhirnya jadi bahan diskusi sepanjang sisa hari itu.
Karena kami baik hati dan tidak egois, hehe. Dengan semangat juang 2008 kami ketik ulang artikel tersebut. Yepski, kami: Dilla dan Budi membagi dua sama rata panjang artikel, dan mengetik di dua komputer, untuk menghemat waktu, hhihihihi. Lumayan buat oleh-oleh teman Kriuk!. Semoga terjadi diskusi yang hangat juga ya di sini. Selamat membaca.
My Identity
Is No Identity
Sebuah wacana seni tentang wajah dari identitas desain clothing
Diketik ulang dari: JEUNE magazine #18.
Saya pernah diundang untuk berbicara dalam sebuah diskusi mengenai wajah industri clothing, acara itu bernama C ON C (Clothing On Creativity), semoga saya tidak salah menyebut kepanjangannya, karena diskusi itu 1 tahun yang lalu. Kabarnya event itu dibuat atas dasar keinginan para desainer clothing yang ingin keberadaannya dianggap sebagai seniman dan juga mampu membuat sebuah pameran dari hasil karya desain mereka. Panitia acaralah yang memiliki ide untuk membuat semacam galeri seni bagi para desainer clothing, desain mereka yang biasanya ada dalam medium T-shirt pada saat itu, kita bisa melihatnya dalam medium canvas. Rangkaian acara itu dibuat 3 hari, hari pertama yaitu pameran karya desain clothing, hari kedua diskusi, dan hari teakhir penutupan.
Saya berbicara dalam kapasitas sebagai editor fashion saat itu. Hadir juga Aminudin TH Siregar dosen seni rupa ITB, Dendy dari perusahaan clothing 347, dan Ahda dari harian Pikiran Rakyat sebagai moderator. Wacana yang hangat dan mencuat saat itu adalah tentang seperti apa wajah atau identitas dari desain clothing kita? Tema itu yang dominan dibicarakan, tentang tidak adanya identitas desain yang berciri Indonesia, dan pesan dari tiap desain kaos yang unn-meaning atau tidak jelas.
Aminudin TH Siregar menunjuk salah satu desain yang bergambar wanita berjilbab memegang senjata yang terpajang di ruang pameran saat itu, dengan heran dia berpendapat “Apa maksud dari desain itu? Aoa pesan yang ingin disampaikan dari desain itu? Banyak karya desain yang tidak saya mengerti maksudnya, cukuplah kita berlomba-lomba hanya di bidang keren saja, tanpa memikirkan makna dibalik karya”.
Dengan penjelasan lebih lanjut, Aminudin yang akrab disapa Ucok ini menambahkan: “Harusnya para produsen dan desainer clothing berbuat sesuatu dari desainnya, punya kontribusi atau peran sosial untuk habitusnya, dan memberi pesan yang jelas dalam menyampaikan desainnya. Seharusnya mereka bisa memberi sesuatu donk, yang adil seharusnya, toh mereka sudah mendapat keuntungan besar dari industri ini”.
Gustaf, adalah salah satu seniman muda yang saat ini bekerja untuk Bandung Centre for new media arts Common Room Networks Fondation, sengaja dimintai pendapatnya mengenai sebuah pesan desain yang harus memiliki arti, dia berkata “Ucok tidak bisa melihat meaning dari desain clothing yang dibuat anak-anak, karena dia nggak punya pengetahuannya. Dia nggak mendalami, karena dia nggak bersama anak-anak. Apa artinya gambar Osama Bin Laden atau desain PDIP buat lo? Semua orang punya frame sendiri-sendiri melihat itu”.
Ya, saya pikir sebuah karya visual dibutuhkan sensor inderawi sendiri-sendiri dalam memandang. Saya teringat akan obrolan ringan saya dengan salah seorang mahasiswa desain komunikasi visual. Kabarnya, beberapa graffiti yang dibuat oleh komunitas urban art tidak memiliki arti apa-apa. Mereka dengan jujurnya mengungkapkan karya mereka “no concept” katanya. Saya bertanya-tanya, gejala berkesenian apakah ini? Kenapa No Concept? Apakah sebuah ekspresi seni desain modern tidak lagi membutuhkan unsur komunikasi? Saya masih ingat, ada seniman yang memiliki pilihan estetisnya, yaitu anti estetis, dan gejala ini berbeda. Saya melihat pilihan estetis “no concept” ini sebagai sebuah karya yang anti tekstual, yang tidak membutuhkan penalaran nalar komunikasi. Bukankah prasyarat untuk memahami maksud dari seni itu harus memiliki aspek komunikasi? Meminjam istilah Ucok, ini mungkin indikasi cacatnya transaksi komunikasi untuk memahami seni.
Dalam diskusi yang sedang berlangsung, saya menyampaikan makalah yang saya tulis sendiri. Sebagai editor, saya mengungkapkan temuan dari hasil wawancara yang pernah saya lakukan langsung, bahwa ada desainer clothing di Bandung, yang sedang dalam proses pencarian menghasilkan karya desain yang memiliki ciri desain Indonesia. Wacana tentang identitas desain ini lalu menarik perhatian sang moderator yaitu Ahda, dari Pikiran Rakyat. Dendy dari owner clothing 347, lalu mengungkapkan sikap dan pendapat mengenai hal itu, dia berpendapat: “kita bagian dari masyarakat dunia, kalau hasil karya desain kita mirip barat atau kebarat-baratan itu wajar wajar aja, software yang kita pake juga dari barat, musik yang kita denger gaya barat, gaya hidup barat udah kita terima dari kecil lewat media. Kita bagian dari masyarakat dunia”.
Gustaf yang memang tidak hadir dalam diskusi itu menyampaikan pendapatnya kepada saya via telepon : "gue setuju pendapat Dendy, menurut gue sia-sia perdebatan identias, identitas sudah baur, barat atau timur sudah saling melengkapi. Identitas biarkan kita yang nyari sendiri deh, identitas itu wacana negosiasi bukan klaim sepihak. Lagian orang ga ambil pusing mau di bilang barat atau timur, itu mitos. Sepenting apa sih identitas untuk lo? Gini aja, gue denger musik barat, suka sama karya orang luar, tapi tetep aja gue di rumah ngomong bahasa sunda, ga lantas ngaku-ngaku gue orang jepang".
Lalu saya bertanya, pada tahun 1954, Trisno Sumardjo mengkritik pameran karya-karya hasil pendidikan seni rupa ITB adalah bentuk pengabdian pada laboratorium barat? Dia menjawab: "ya gue inget, tapi itukan konteksnya dulu, saat itu semangat nasionalis penting untuk pergerakan kebangsaan". Saya bertanya lagi, jadi ga penting identitas desain indonesia itu dicari? Gimana pendapat lo tentang produsen clothing yang sedang mencari identitas desain Indonesia? Dia sedikit berfikir: "mmh, penting ga penting sih. Intinya gue yakin apa yang sedang anak-anak lakukan sekarang suatu saat nanti akan menjadi sesuatu, ini semua proses menjadi sesuatu. Kata gue dua-duanya benar, mereka yang bilang bagian dari komunitas global dan yang bilang bagian dari komunitas lokal".
Wisnu seorang wartawan dari majalah GATRA yang juga hadir dalam diskusi itu mengungkapkan pendapatnya mengenai wacana ini kepada saya via sms: "sayang sekali orang yang tidak memperdulikan identitas, Indonesia memiliki banyak dimensi grafis yang cukup membanggakan, kenapa para praktisi desain dengan mudahnya mengakui sudah tak penting mencari identitas desain, dan dengan cepat mendua-duakan diriya bagian dari masyarakat global". Krisis identitas, apakah sungguh terjadi di kalangan pe-desain clothing? Apakah ini krisis? Masalah menjaga identitas memang bukan perkara baik atau buruk, tetapi perkara kesadaran diri, apakah penting seseorang menyadari dari mana dia berasal, menyadari latar belakang hidup kita lewat karya-nya. Karena toh, sudah sejak dulu krisis Identitas ini pernah terjadi yaitu praktek seni abstrak dan kubistik yang diajarkan Ries Mulder kepada Ahmad Sadali dan kawan-kawan di Bandung di tuding sebagai praktik seni lukis yang tidak berpijak di tanah air.
Pelataran seni memang banyak membuat polemik, kritik dan menuai kekisruhan pemahaman publik para pelaku seni, bahkan pergeseran pemahaman telah sampai pada perdebatan yang bernuansa politik, hukum, atau nilai agama. Lalu tulisan saya ini juga membutuhkan kritisisme. Karena mungkin tulisan ini perlu untuk dibongkar, di timbang kembali bahkan di perbaharui, meminjam kalimat Herry Dim: "hanya orang dungu-lah yang mampu menyatakan dirinya aku telah sempurna dan tak perlu di kritik lagi". Seburuk dan sebaik apapun yang telah dihasilkan industri ini, semoga bisa dikritisi dan di ambil manfaatnya, karena industri clothing lahir dari aspek seni dan kreatifitas bukan sekedar bisnis.
Organisasi seperti KICK (Kreative Independent Clothing Kommunity) juga hadir sebagai Asosiasi creative agar menjaga semangat berkesenian dan kreatifitas itu, bukan sekedar bisnis saja. Saya lalu bertanya, apa benar KICK bisa menjaga organisasinya agar wilayahnya steril dari pada pebisnis belaka, seperti clothing kelas dua yang sering mereka klaim? Gustaf yang juga penasehat KICK menjawab: "nah itu dia, gue juga mau bukti, apa sih yang sudah di perjuangkan KICK? Apa sih yang mereka bisa lakukan? Sumbangan kreatif seperti apa yang bisa mereka kasih? Kita liat aja sama-sama, kalo toh ternyata aktifitasnya Cuma dagang doang ngapain?". Kembali kepada pembahasan utama, Pesan seperti apa yang clothing sampaikan dalam desainnya? seperti apa identitas desain clothing kita? Itu yang perlu dipertanyakan, tapi saya ingin Meminjam istilah Wisnu, mungkin: "MY IDENTITY IS NO IDENTITY". **