Suatu hari saya berjalan-jalan melewati sebuah toko fotografi. Tiap lewat sana, saya selalu mengagumi betapa ramainya toko ini. Banyak sekali mobil dan motor yang berjejal parkir. Kemudian mata saya berhenti memandang petugas parkir di sana. Seperti biasa, petugas parkir tidak akan berada jauh dari mobil, dan menggunakan seragam jingga. Yang membuat saya tertegun adalah, bahwa petugas ini sedang menggunakan earphone, sambil mengoperasikan iPod-nya. Ya, saya yakin tidak salah lihat. Itu iPod.
Lepas dari masalah petugas parkir yang berrizki lebih dan mampu memiliki iPod (dan saya tidak), saya berfikir tentang earphone yang dia gunakan. Tidak sekali ini saya melihat orang ber-earphone. Saya sering melihat mahasiswa berjalan kaki menggunakan earphone, orang duduk di angkot menggunakan earphone, bahkan ada juga orang yang sedang mengobrol dengan teman di depan mukanya, namun masih juga menggunakan earphone. Koreksi saya jika saya salah. Namun sepertinya sekarang menyumpal lubang telinga dengan benda bernama earphone jadi sesuatu yang sangat nge-trend di kalangan manapun.
Saya tidak merasa itu salah. Hidup tanpa musik memang hampa. Musik bisa membantu menggenjot mood saat lagi turun. Membuat semangat saat jadi loyo. Kapanpun dimanapun, musik jadi kebutuhan yang ratingnya makin menanjak sekarang. Saya sepakat, dan merasa itu syah-syah saja. Tapi tetap ada saatnya. Ada saatnya orang yang megobrol dengan kita punya hak untuk dapat perhatian. Ada saatnya lingkungan yang sedang kita pijak butuh telinga kita dalam keadaan penuh dan tidak terbagi.
Begini, bayangkan saja misalnya teman kita lagi curhat tentang pacarnya yang selingkuh. Dia butuh saran dari kamu. Kamu, mendengarkan dia dengan satu telinga, telinga lain diisi earphone. Bisa jadi saran yang keluar dari mulut kamu malah nggak nyambung sama apa yang dia harapkan. Berabe kan tuh. Atau begini, kamu lagi antre berobat di Puskesmas, karena bosan maka kamu keluarkan gadget musik andalanmu. Dan karena keasyikan berdendang, akhirnya kamu melewatkan suara suster memanggil namamu. Sampe Puskesmas tutup, baru nyadar deh kelewatan antre. Bayangkan juga, kalo si petugas parkir tadi tidak mendengar alarm mobil, klakson, atau pelanggan yang teriak minta geser mobil. Kalau begini earphone malah jadi pembawa bencana, bukan pemberi kenikmatan.
All i want to say is, semua ada waktunya. Ada waktunya cinta bikin senang, ada waktunya cinta bikin sedih. Ada waktunya musik bikin semangat, ada waktunya malah bikin tambah garuk-garuk tanah sampe bunuh diri. Ada waktunya menyumpal telinga bikin tenang, ada waktunya malah bikin kita autis dari dunia. Lihat waktu yang tepat kawan. Berbagilah. Beri sedikit kemerdekaan kepada lingkungan sekitar untuk memilikimu sepenuhnya. Tanpa sumpal telinga.

